Home » » Adu Karakter Superhero... Fiksi vs Biografi

Adu Karakter Superhero... Fiksi vs Biografi

Written By Blogs owner SidikRizal on Sunday, April 26, 2009 | 8:52 AM

Dilema Seorang Penulis
Antara Fakta Sejarah dan Fiksi Ilmiah

Bekasi, dobeldobel.com
Sebagai seorang pemimpi, pendidikan agama dari guru ngaji saya pak Ustadz (demikian sering panggilannya sampe-sampe saya lupa nama sebenarnya, itupun dulu sewaktu saya masih SD dan kini ia telah almarhum), sehingga saya tahu persis apa artinya menulis sebuah karya yang baik. 


Memang terkadang saat saya sedang membayangkan seorang tokoh, maka sosok itulah yang jadi gambaran saya sebagai hero. Terlepas dari ia mempunyai kelemahan, namun saya tahu bahwa setiap kisah seorang pahlawan (baik itu superhero yang paling sering datang dari negerinya kaum Yahudi, Amerika Serikat... tapi nggak juga seh, karena negeri itu ternyata multi etnis) pasti ada titik kelemahannya.

Saya pernah mempelajari dari beberapa sumber, bahwa sebuah kisah fiksi kadang memang berasal dari kisah nyata. Atau bahkan kisah sejarah yang dianalogikan dengan simbol-simbol hiperbolis untuk menyembunyikan hal yang sebenarnya. Namun terkadang kebenarannya semakin "gak jelas" dan semakin tak sesuai, namun begitu karya ilmiah fiksi (science fiction) akhirnya menjadi sebuah trend perilaku kebiasaan membaca atau menonton manusia di kolong langit ini. Lalu apakah ini sebuah penyimpangan atau sekadar "bagian" dari proses pembelajaran hidup...

Kok kesannya jadi njelimet seh? Ok mari saya ambil contoh sederhana. Seluruh dunia pernah dan tahu kisahkomik legendaris Superman yang bernama manusianya, Clark Kent. Makhluk dari planet Krypton ini sebenarnya mempyai nama asli Kal El dan ayahnya Jor El. Coba anda perhatikan nama Kryptonnya, yang terdengar sangat akrab dengan bahasa Ibrani. Karena sang pencipta karakter ini adalah orang Yahudi asli.

Kal El, sebenarnya adalah singkatan dari Kal Eliah, dimana dalama derivasi beberapa bahasa dunia kuno, Kal = Child = Anak. Dan Jor = Your = Kamu, sedangkan El = Eli = Eliah atau Tuhan dalam bahasa Ibrani kuno. So arti dari Kal El = Anak Tuhan (Child of Eliah), demikian pula Jor El = Your Eliah atau Tuhanmu. Maka dari sini saja kita sudah bisa mengambil kesimpulan bagaimana sang penulis, pencipta karakater Superman telah menciptakan tokoh fiksi berdasarkan catatan sejarah (namun sejarah ajaran Kristiani dan bukan ajaran agama Islam).

Bagaimana dia menggambarkan Sang Superman, kehilangan planetnya, kemudian menggambarkan ia turun ke bumi untuk menolong umat manusia dari kehancuran setelah dikirimkan oleh ayahnya Jor El dengan pesawat ruang angkasa canggih. Nampak sudah sang penulis berusaha melogikakan pengalaman batin dan Kitab Injil yang pernah dia pelajari. Dan itulah sebabnya cerita Superman begitu mudah diterima di Amerika Serikat sana, kemudian setelah mereka sebarkan ke seluruh dunia maka mereka bisa mengklaim cerita tokoh komik superhero terlaris sepanjang masa dan terlegendaris sepanjang sejarah.

Demikian pula tulisan-tulisan karya penulis besar Eropa seperti The Lord of The Ring yang mengambil landasan cerita dari perang dunia I, II dan sejarah Inggris Raya. Demikian pula cerita legendaris dan spektakuler lainnya, Star Wars yang mengambil setting dasar bahan tulisan berdasarkan sejarah dunia antara Kerajaan Inggris dan peran Amerika Serikat di PD I, II (ini akan saya jabarkan dalam tulisan saya lainnya).

Saya mendapatkan hikmah dari cerita itu jauh-jauh sebelum saya bertemu dengan beberapa ustadz yang guru ngaji saya dan terakhir saya bertemu dengan Ustadz Ahmad Syaikhu, saat saya hendak menawarkan sebuah program pembuatan biografi dirinya namun dalam kemasan komik. Dia dengan rendah hati menolak (kebetulan karena sudah ada satu dari temen saya, Ali Anwar, yang akan menulis biografinya terlebih dahulu daripada saya). Padahala apa yang saya lakukan adalah menulis biografi saja namun dengan kemasan komik. Dan sang Ustadz menjelaskan, bahwa "komik" masih sangat kental unsur fiksinya.

Kata fiksi sendiri menurut masyarakat modern memang sepertinya bisa diterima sebagai bagian dari salah satu karya sastra. Namun dalam ajaran Islam, fiksi adalah bukan satu hal yang bisa diterima dan dijadikan bacaan "wajib" atau sandaran dalam setiap tindakan kita. Karena hakikatnya, fiksi sangat identik khurafat, takhayul hanya saja fiksi lebih modern dan terkadang berlandaskan logika kemasannya. Itulah yang orang sebut dengan Science Fiction. namun aslinya science fiction tetap saja adalah sebuah "dugaan", atau "kira-kira" atau pemikiran yang tidak mendasar dan kadang "bisa" sangat penuh dengan dusta.

Saya pun jadi ingat penuturan Ustadz Syaikhu dalam penyampaian Hadits saja kita harus tahu siapa yang menyampaikan, bagaimana silsilah periwayatnya, Dan inilah yang jadilandasan "penulisan" ilmiah yang sesungguhnya dalam ilmu pengetahuan yang dipakai baku di seluruh dunia pendidikan. Jadi seandainya ada periwayat hadits yang tercela entah karena kekurangannya, atau dustanya, atau terputusnya hubungan langsung ke asal-usul hadits (dalam hal ini Muhammad Rasulullah s.a.w.) maka hadits itu bisa tak terpakai sama sekali sebagai hujjah (pegangan). Dan saya pun merinding, saat saya mengetahui, betapa Islam sangat hati-hati menyampaikan berita, atau cerita atau bahkan sekadar tulisan yang bisa mempengaruhi perilaku kehidupan para pembacanya. Maka dari itu, sat banyak hadits palsu dan dha'if (lemah) yang dijadikan landasan berfikir dan hujjah banyak orang, maka sudah bisa dipastikan itu adalah keseatan yang sangat terselubung dan berbahaya.

Dan bila itu saya kaitkan dengan kisah-kisah komik sains fiksi (science fiction) maka semakin jelaslah saya, bahwa kebodohan manusia di dunia ini ternyata merata. Bukan saja kita orang Indonesia yang dulu masih banyak sekali terbelakang cara berfikirnya dengan banyaknya kisah-kisah khurafat dan tahayul (ini saya alami sewaktu masih kecil), ternyata orang-orang Amerika Serikat dan orang Eropa termasuk semua negara-negara maju, masih saja suka menerima cerita, berita yang sangat sarat dengan khurafat, tahayul bahkan dusta besar sekalipun mereka lahap dan konsumsi buat anak-anak mereka.

Dari situlah saya mengerti kenapa cerita Superman, Batman, Spiderman (sperhero fiksi) jauh lebih dominan daripada kisah sejarah yang sebenarnya dan apapun kemasannya, mereka lebih suka dengan legenda serta mitos (mitos = the myth -- baca "de-mit", dan mungkin inilah yang orang belanda sering ceritakan kepada orang Jawa dulu saat penjajahannya selama 350 tahun, sehingga orang Jawa bilang "Demit" atau "Dedemit" untuk kisah-kisah khurafat dan tahayul yang disebarkan orientalis Belanda, Snouckghorounye... heheheh Wallahu a'lam)

Apalagi kalau mau kita telaah lebih dalam kisah Kristiani di negeri barat sana. Kisah tahayul (bahkan penuh dusta) tentang Santa Klauss, atau Sinterklas atau Saint Clauss yang membagi-bagikan hadiah buat anak kecil yang tidak nakal. Bagaimana setiap pribadi penganut agama Kristiani di Amerika Serikat sana, begitu obsesif, bahkan rela merealisasikan "kisah dusta" kepada anak-anaknya. Kalau sudah begini, lalu bagaimana dia mengharapkan bisa mendidik anaknya dengan kejujuran dan kebenaran? (Wajarlah bila kebenaran dan kejujuran menjadi hal yang sangat berbenturan di negara penuh kisah "Israiliyat" ini).

Seorang sahabat saya menceritakan tentang sebuah hadits agar kita mewaspadai setiap cerita dan kisah yang datang dari Ahli Kitab. Seandainya kita mendapatkan hadits israiliyat )kisah-kisah dari ahli kitab) janganlah kita dustai dan jangan pula kita benarkan. Diamkan saja. Setelah kita teliti dan pelajari, memang kisah-kisah Israiliyat identik dengan Science Fiction dan Identik pula dengan Khurafat dan Tahayul. Bagaimana menurut anda? Wallahu a'lam bi showab!
Sidik Rizal


Contoh berakhirnya dominasi cerita komik Batman Superman yang jadi cerita lucu hiburan semata......



atau juga yang ini



dan yang ini

0 komentar:

Chat Box dengan Kami

Follow by Email

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. Global Bekasi - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger